Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Rumah Pohon Mewah, Ada Kulkas sampai Bak Mandi Air Panas!

Written By Unknown on Senin, 17 Desember 2012 | 09.37

www.dailymail.co.uk

Rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

www.dailymail.co.uk

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng, seperti menghadirkan bak mandi air panas ini.

www.dailymail.co.uk

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung.

KOMPAS.com - Seorang ahli bangunan di kawasan Kent, Inggris, saat ini tengah bersiap-siap memperkenalkan rumah pohon mewah seharga kurang lebih 60,000 Euro. Maklum, rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung yang ia kumpulkan dari pantai tak jauh dari tempatnya membangun rumah pohon ini.

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng. Ia dengan serius melengkapi rumah pohon untuk berlibur ini dengan saluran air dan instalasi listrik. Alhasil, memang tampak benar-benar lengkap serta nyaman seperti di hotel bintang lima bergaya dekorasi rustik.

Mengelilingi seisi rumah pohon ini terasa memberikan nuansa harmoni alam dengan setting rumah yang benar-benar alami. Whalley membangun konstruksi rumah pohon ini setinggi 20 kaki dari tanah.

Untuk menjalankan rencana pembangunannya, ia mulai merancang desain bangunan ini sebagai rumah pohon berteknologi tinggi pada Maret lalu. Untuk memperkecil pengeluaran, Whalley menggunakan kulit-kulit kayu dan tumpukan kayu apung yang dia kumpulkan tak jauh dari Pantai Whitstable.

Whalley dan isterinya, Michelle (48), yang dikaruniai enam anak ini, juga cukup beruntung memiliki banyak kulit kayu untuk membuat lemari, sebuah meja, dan tempat tidur di rumah pohon ini. Kemudian, Whalley mulai melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan penyamak kulit kayu, dan naik-turun pohon menggunakan tali.

Baca juga:

Wow...JK Rowling Bangun Rumah Pohon "Harry Potter"!


09.37 | 0 komentar | Read More

Bermodal Gulungan Tisu, Hiasan Natal Tetap Seru!

http://www.curbly.com

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan gulungan tisu bekas.

http://www.curbly.com

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

http://www.curbly.com

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau.

http://www.curbly.com

Satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya dan rangkailah bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran.

KOMPAS.com - Siapa bilang hiasan Natal harus mahal? Anda tetap dapat membuat hiasan Natal cantik dengan biaya relatif murah karena Anda hanya perlu memanfaatkan barang-barang tidak terpakai di rumah.

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Berikut ini cara pembuatan hiasan Natal dari karton tisu gulung, cat akrilik, lem "tembak", serta manik-manik.

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau. Sekali lagi, biarkan potongan tersebut mengering.

Selanjutnya, satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya. Rangkai bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran. Lingkaran ini akan menjadi dasar dari wreath Anda.

Setelah itu, buat kembali lingkaran serupa dengan diameter sedikit lebih kecil. Rekatkan lingkaran yang lebih kecil di atas"wreath Anda. Setelah itu, Anda hanya tinggal memberikan beberapa manik-manik berwarna merah untuk mempercantik wreath Anda.

(Sumber: http://www.curbly.com)

Baca juga:

"Gereja Transparan", Bukan Gereja Sebenarnya....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Kayu, Inspirasi Hunian Murah dari Perang Kosovo

KOMPAS.com - Perang dan bencana ibarat sebuah mata uang logam yang memiliki dua sisi. Di antara tragedi yang menghasilkan kerugian jiwa, materil, dan duka mendalam, perang juga membawa inovasi baru.

Manusia dipaksa untuk terus hidup dalam batas-batas kemampuannya. Begitu juga dengan tragedi yang terjadi pada Perang Kosovo pada akhir 90-an. Perang tersebut menyisakan begitu banyak merenggut korban jiwa dan tingginya pengungsian.

Sementara itu, menurut Komite AS untuk Pengungsi dan Imigran, saat ini ada lebih dari 33 juta pengungsi di seluruh dunia. Dalam usaha untuk memberikan hunian yang layak bagi para pengungsi, sebuah penemuan unik menjadi jawabannya.

Solusi ini sebenarnya sudah cukup lama ditemukan, tepatnya pada 2000. Namun, tak ada salahnya "membawa" kembali ide pembuatan rumah ini ke permukaan.

Solusi tersebut melibatkan alas kayu yang dipergunakan untuk pengiriman barang. AS memproduksi 700 juta alas kayu semacam itu setiap tahunnya. Sebanyak 150 juta alas kayu tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah.

Ternyata, dari dua data yang tampaknya tidak berhubungan tersebut, yaitu antara jumlah pengungsi dan jumlah produksi alas kayu, sebuah proyek telah dilakukan. Maksud proyek tersebut adalah mengurangi jumlah sampah sekaligus memberikan hunian layak bagi para pengungsi.

Caranya? Tentu saja, dengan membuat alas kayu tersebut menjadi rumah permanen yang dapat ditempati para pengungsi.

Rumah dari alas kayu tersebut hanya berukuran 3 meter x 6 meter. Setiap rumah dengan ukuran tersebut hanya membutuhkan 80 alas kayu yang dipaku atau direkatkan.

Kain terpal digunakan sebagai pelapis atas struktur dasar rumah tersebut. Terpal tersebut dipakai untuk mencegah air masuk ke dalam rumah. Terpal ini hanya akan digunakan sampai puing-puing, batu, lumpur, tanah, kayu, atau logam dari lingkungan sekitarnya dapat dikumpulkan untuk mengisi rongga dinding dan menutupi atap.

Untuk area-area yang memiliki cuaca ekstrem, kayu-kayu tersebut akan dirakit bersama dengan insulasi dari gabus untuk mengurangi dampak dari cuaca buruk.

Hasilnya, proyek ini memenangkan Honorable Mention dalam kompetisi desain untuk rumah transisi bagi pengungsi Kosovo. Proyek tersebut membuktikan, bahwa tim yang terdiri dari empat orang tesebut dapat membuat rumah ini hanya dari alat-alat pertukangan sederhana. Selain itu, proses pengerjaannya juga hanya memakan waktu seminggu.

"Proyek Rumah Palet pada awalnya dibuat sebagai tempat berlindung sementara bagi para pengungsi yang ingin kembali ke Kosovo setelah perang," kata salah seorang pembuatnya.

"Orang-orang ini membutuhkan alternatif selain tenda. Solusi ini dapat berpotensi sebagai rumah permanen setelah beberapa waktu ditinggali, walaupun tanpa menggunakan alat-alat canggih untuk membangunnya. Ini telah menjadi tujuan kami untuk mengembangkan proyek tersebut sebagai solusi hunian yang lebih permanen," ujarnya.

Namun, dia menambahkan, bukan hanya bagi pengungsi dari berbagai bencana, namun juga sebagai solusi bagi rumah dengan harga tejangkau di mana pun. Rumah ini dapat meningkatkan kualitas hidup, kualitas lingkungan, masyarakat, dan bahkan mampu menginspirasi diplomasi di antara beberapa kultur di seluruh dunia dalam skala lebih besar.

"Palet ini multifungsi, dapat didaur ulang, berkelanjutan, dan mudah perakitannya. Selain itu, secara umum, estetikanya juga memuaskan. Rumah-rumah ini dapat tersedia dengan mudah di sejumlah besar negara. Biaya pengiriman dan berat bahan baku rumah ini juga dapat diabaikan lantaran berbarengan dengan pengiriman makanan, baju, atau bantuan lainnya," katanya.

Menurut dia, struktur panel kayu yang sederhana dalam proyek ini mampu berevolusi secara alami dari perlindungan darurat menjadi rumah permanen dengan penambahan beberapa material seperti puing-puing, batu, tanah, lumpur, plester dan beton.

Nah, mungkinkah rumah-rumah semacam ini dapat menjadi 'kado Natal' bagi para pengungsi dan penduduk-penduduk yang tidak memiliki rumah di Indonesia akibat bencana?

Baca juga:

Selamat Tinggal Masa-masa Indah KPR Syariah....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Pohon Mewah, Ada Kulkas sampai Bak Mandi Air Panas!

Written By Unknown on Minggu, 16 Desember 2012 | 09.37

www.dailymail.co.uk

Rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

www.dailymail.co.uk

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng, seperti menghadirkan bak mandi air panas ini.

www.dailymail.co.uk

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung.

KOMPAS.com - Seorang ahli bangunan di kawasan Kent, Inggris, saat ini tengah bersiap-siap memperkenalkan rumah pohon mewah seharga kurang lebih 60,000 Euro. Maklum, rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung yang ia kumpulkan dari pantai tak jauh dari tempatnya membangun rumah pohon ini.

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng. Ia dengan serius melengkapi rumah pohon untuk berlibur ini dengan saluran air dan instalasi listrik. Alhasil, memang tampak benar-benar lengkap serta nyaman seperti di hotel bintang lima bergaya dekorasi rustik.

Mengelilingi seisi rumah pohon ini terasa memberikan nuansa harmoni alam dengan setting rumah yang benar-benar alami. Whalley membangun konstruksi rumah pohon ini setinggi 20 kaki dari tanah.

Untuk menjalankan rencana pembangunannya, ia mulai merancang desain bangunan ini sebagai rumah pohon berteknologi tinggi pada Maret lalu. Untuk memperkecil pengeluaran, Whalley menggunakan kulit-kulit kayu dan tumpukan kayu apung yang dia kumpulkan tak jauh dari Pantai Whitstable.

Whalley dan isterinya, Michelle (48), yang dikaruniai enam anak ini, juga cukup beruntung memiliki banyak kulit kayu untuk membuat lemari, sebuah meja, dan tempat tidur di rumah pohon ini. Kemudian, Whalley mulai melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan penyamak kulit kayu, dan naik-turun pohon menggunakan tali.

Baca juga:

Wow...JK Rowling Bangun Rumah Pohon "Harry Potter"!


09.37 | 0 komentar | Read More

Bermodal Gulungan Tisu, Hiasan Natal Tetap Seru!

http://www.curbly.com

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan gulungan tisu bekas.

http://www.curbly.com

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

http://www.curbly.com

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau.

http://www.curbly.com

Satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya dan rangkailah bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran.

KOMPAS.com - Siapa bilang hiasan Natal harus mahal? Anda tetap dapat membuat hiasan Natal cantik dengan biaya relatif murah karena Anda hanya perlu memanfaatkan barang-barang tidak terpakai di rumah.

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Berikut ini cara pembuatan hiasan Natal dari karton tisu gulung, cat akrilik, lem "tembak", serta manik-manik.

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau. Sekali lagi, biarkan potongan tersebut mengering.

Selanjutnya, satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya. Rangkai bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran. Lingkaran ini akan menjadi dasar dari wreath Anda.

Setelah itu, buat kembali lingkaran serupa dengan diameter sedikit lebih kecil. Rekatkan lingkaran yang lebih kecil di atas"wreath Anda. Setelah itu, Anda hanya tinggal memberikan beberapa manik-manik berwarna merah untuk mempercantik wreath Anda.

(Sumber: http://www.curbly.com)

Baca juga:

"Gereja Transparan", Bukan Gereja Sebenarnya....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Kayu, Inspirasi Hunian Murah dari Perang Kosovo

KOMPAS.com - Perang dan bencana ibarat sebuah mata uang logam yang memiliki dua sisi. Di antara tragedi yang menghasilkan kerugian jiwa, materil, dan duka mendalam, perang juga membawa inovasi baru.

Manusia dipaksa untuk terus hidup dalam batas-batas kemampuannya. Begitu juga dengan tragedi yang terjadi pada Perang Kosovo pada akhir 90-an. Perang tersebut menyisakan begitu banyak merenggut korban jiwa dan tingginya pengungsian.

Sementara itu, menurut Komite AS untuk Pengungsi dan Imigran, saat ini ada lebih dari 33 juta pengungsi di seluruh dunia. Dalam usaha untuk memberikan hunian yang layak bagi para pengungsi, sebuah penemuan unik menjadi jawabannya.

Solusi ini sebenarnya sudah cukup lama ditemukan, tepatnya pada 2000. Namun, tak ada salahnya "membawa" kembali ide pembuatan rumah ini ke permukaan.

Solusi tersebut melibatkan alas kayu yang dipergunakan untuk pengiriman barang. AS memproduksi 700 juta alas kayu semacam itu setiap tahunnya. Sebanyak 150 juta alas kayu tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah.

Ternyata, dari dua data yang tampaknya tidak berhubungan tersebut, yaitu antara jumlah pengungsi dan jumlah produksi alas kayu, sebuah proyek telah dilakukan. Maksud proyek tersebut adalah mengurangi jumlah sampah sekaligus memberikan hunian layak bagi para pengungsi.

Caranya? Tentu saja, dengan membuat alas kayu tersebut menjadi rumah permanen yang dapat ditempati para pengungsi.

Rumah dari alas kayu tersebut hanya berukuran 3 meter x 6 meter. Setiap rumah dengan ukuran tersebut hanya membutuhkan 80 alas kayu yang dipaku atau direkatkan.

Kain terpal digunakan sebagai pelapis atas struktur dasar rumah tersebut. Terpal tersebut dipakai untuk mencegah air masuk ke dalam rumah. Terpal ini hanya akan digunakan sampai puing-puing, batu, lumpur, tanah, kayu, atau logam dari lingkungan sekitarnya dapat dikumpulkan untuk mengisi rongga dinding dan menutupi atap.

Untuk area-area yang memiliki cuaca ekstrem, kayu-kayu tersebut akan dirakit bersama dengan insulasi dari gabus untuk mengurangi dampak dari cuaca buruk.

Hasilnya, proyek ini memenangkan Honorable Mention dalam kompetisi desain untuk rumah transisi bagi pengungsi Kosovo. Proyek tersebut membuktikan, bahwa tim yang terdiri dari empat orang tesebut dapat membuat rumah ini hanya dari alat-alat pertukangan sederhana. Selain itu, proses pengerjaannya juga hanya memakan waktu seminggu.

"Proyek Rumah Palet pada awalnya dibuat sebagai tempat berlindung sementara bagi para pengungsi yang ingin kembali ke Kosovo setelah perang," kata salah seorang pembuatnya.

"Orang-orang ini membutuhkan alternatif selain tenda. Solusi ini dapat berpotensi sebagai rumah permanen setelah beberapa waktu ditinggali, walaupun tanpa menggunakan alat-alat canggih untuk membangunnya. Ini telah menjadi tujuan kami untuk mengembangkan proyek tersebut sebagai solusi hunian yang lebih permanen," ujarnya.

Namun, dia menambahkan, bukan hanya bagi pengungsi dari berbagai bencana, namun juga sebagai solusi bagi rumah dengan harga tejangkau di mana pun. Rumah ini dapat meningkatkan kualitas hidup, kualitas lingkungan, masyarakat, dan bahkan mampu menginspirasi diplomasi di antara beberapa kultur di seluruh dunia dalam skala lebih besar.

"Palet ini multifungsi, dapat didaur ulang, berkelanjutan, dan mudah perakitannya. Selain itu, secara umum, estetikanya juga memuaskan. Rumah-rumah ini dapat tersedia dengan mudah di sejumlah besar negara. Biaya pengiriman dan berat bahan baku rumah ini juga dapat diabaikan lantaran berbarengan dengan pengiriman makanan, baju, atau bantuan lainnya," katanya.

Menurut dia, struktur panel kayu yang sederhana dalam proyek ini mampu berevolusi secara alami dari perlindungan darurat menjadi rumah permanen dengan penambahan beberapa material seperti puing-puing, batu, tanah, lumpur, plester dan beton.

Nah, mungkinkah rumah-rumah semacam ini dapat menjadi 'kado Natal' bagi para pengungsi dan penduduk-penduduk yang tidak memiliki rumah di Indonesia akibat bencana?

Baca juga:

Selamat Tinggal Masa-masa Indah KPR Syariah....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Pohon Mewah, Ada Kulkas sampai Bak Mandi Air Panas!

Written By Unknown on Sabtu, 15 Desember 2012 | 09.37

www.dailymail.co.uk

Rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

www.dailymail.co.uk

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng, seperti menghadirkan bak mandi air panas ini.

www.dailymail.co.uk

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung.

KOMPAS.com - Seorang ahli bangunan di kawasan Kent, Inggris, saat ini tengah bersiap-siap memperkenalkan rumah pohon mewah seharga kurang lebih 60,000 Euro. Maklum, rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung yang ia kumpulkan dari pantai tak jauh dari tempatnya membangun rumah pohon ini.

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng. Ia dengan serius melengkapi rumah pohon untuk berlibur ini dengan saluran air dan instalasi listrik. Alhasil, memang tampak benar-benar lengkap serta nyaman seperti di hotel bintang lima bergaya dekorasi rustik.

Mengelilingi seisi rumah pohon ini terasa memberikan nuansa harmoni alam dengan setting rumah yang benar-benar alami. Whalley membangun konstruksi rumah pohon ini setinggi 20 kaki dari tanah.

Untuk menjalankan rencana pembangunannya, ia mulai merancang desain bangunan ini sebagai rumah pohon berteknologi tinggi pada Maret lalu. Untuk memperkecil pengeluaran, Whalley menggunakan kulit-kulit kayu dan tumpukan kayu apung yang dia kumpulkan tak jauh dari Pantai Whitstable.

Whalley dan isterinya, Michelle (48), yang dikaruniai enam anak ini, juga cukup beruntung memiliki banyak kulit kayu untuk membuat lemari, sebuah meja, dan tempat tidur di rumah pohon ini. Kemudian, Whalley mulai melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan penyamak kulit kayu, dan naik-turun pohon menggunakan tali.

Baca juga:

Wow...JK Rowling Bangun Rumah Pohon "Harry Potter"!


09.37 | 0 komentar | Read More

Bermodal Gulungan Tisu, Hiasan Natal Tetap Seru!

http://www.curbly.com

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan gulungan tisu bekas.

http://www.curbly.com

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

http://www.curbly.com

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau.

http://www.curbly.com

Satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya dan rangkailah bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran.

KOMPAS.com - Siapa bilang hiasan Natal harus mahal? Anda tetap dapat membuat hiasan Natal cantik dengan biaya relatif murah karena Anda hanya perlu memanfaatkan barang-barang tidak terpakai di rumah.

Salah satu hiasan Natal yang dapat Anda buat sendiri adalah hiasan berbentuk lingkaran (wreath). Anda dapat membuatnya hanya dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Berikut ini cara pembuatan hiasan Natal dari karton tisu gulung, cat akrilik, lem "tembak", serta manik-manik.

Pertama-tama, siapkan karton gulungan tisu. Warnai gulungan karton tersebut dengan cat akrilik berwarna hijau, lalu biarkan sampai gulungan-gulungan yang Anda warnai itu benar-benar kering.

Setelah kering, potong-potong gulungan karton tersebut menggunakan gunting hingga menjadi berbentuk seperti daun. Warnai bagian dalam potongan tersebut dengan warna hijau. Sekali lagi, biarkan potongan tersebut mengering.

Selanjutnya, satukan lima potongan "daun" yang telah kering tersebut hingga membentuk bunga. Gunakan lem "tembak" untuk merekatkannya. Rangkai bunga-bunga tersebut hingga membentuk lingkaran. Lingkaran ini akan menjadi dasar dari wreath Anda.

Setelah itu, buat kembali lingkaran serupa dengan diameter sedikit lebih kecil. Rekatkan lingkaran yang lebih kecil di atas"wreath Anda. Setelah itu, Anda hanya tinggal memberikan beberapa manik-manik berwarna merah untuk mempercantik wreath Anda.

(Sumber: http://www.curbly.com)

Baca juga:

"Gereja Transparan", Bukan Gereja Sebenarnya....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Kayu, Inspirasi Hunian Murah dari Perang Kosovo

KOMPAS.com - Perang dan bencana ibarat sebuah mata uang logam yang memiliki dua sisi. Di antara tragedi yang menghasilkan kerugian jiwa, materil, dan duka mendalam, perang juga membawa inovasi baru.

Manusia dipaksa untuk terus hidup dalam batas-batas kemampuannya. Begitu juga dengan tragedi yang terjadi pada Perang Kosovo pada akhir 90-an. Perang tersebut menyisakan begitu banyak merenggut korban jiwa dan tingginya pengungsian.

Sementara itu, menurut Komite AS untuk Pengungsi dan Imigran, saat ini ada lebih dari 33 juta pengungsi di seluruh dunia. Dalam usaha untuk memberikan hunian yang layak bagi para pengungsi, sebuah penemuan unik menjadi jawabannya.

Solusi ini sebenarnya sudah cukup lama ditemukan, tepatnya pada 2000. Namun, tak ada salahnya "membawa" kembali ide pembuatan rumah ini ke permukaan.

Solusi tersebut melibatkan alas kayu yang dipergunakan untuk pengiriman barang. AS memproduksi 700 juta alas kayu semacam itu setiap tahunnya. Sebanyak 150 juta alas kayu tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah.

Ternyata, dari dua data yang tampaknya tidak berhubungan tersebut, yaitu antara jumlah pengungsi dan jumlah produksi alas kayu, sebuah proyek telah dilakukan. Maksud proyek tersebut adalah mengurangi jumlah sampah sekaligus memberikan hunian layak bagi para pengungsi.

Caranya? Tentu saja, dengan membuat alas kayu tersebut menjadi rumah permanen yang dapat ditempati para pengungsi.

Rumah dari alas kayu tersebut hanya berukuran 3 meter x 6 meter. Setiap rumah dengan ukuran tersebut hanya membutuhkan 80 alas kayu yang dipaku atau direkatkan.

Kain terpal digunakan sebagai pelapis atas struktur dasar rumah tersebut. Terpal tersebut dipakai untuk mencegah air masuk ke dalam rumah. Terpal ini hanya akan digunakan sampai puing-puing, batu, lumpur, tanah, kayu, atau logam dari lingkungan sekitarnya dapat dikumpulkan untuk mengisi rongga dinding dan menutupi atap.

Untuk area-area yang memiliki cuaca ekstrem, kayu-kayu tersebut akan dirakit bersama dengan insulasi dari gabus untuk mengurangi dampak dari cuaca buruk.

Hasilnya, proyek ini memenangkan Honorable Mention dalam kompetisi desain untuk rumah transisi bagi pengungsi Kosovo. Proyek tersebut membuktikan, bahwa tim yang terdiri dari empat orang tesebut dapat membuat rumah ini hanya dari alat-alat pertukangan sederhana. Selain itu, proses pengerjaannya juga hanya memakan waktu seminggu.

"Proyek Rumah Palet pada awalnya dibuat sebagai tempat berlindung sementara bagi para pengungsi yang ingin kembali ke Kosovo setelah perang," kata salah seorang pembuatnya.

"Orang-orang ini membutuhkan alternatif selain tenda. Solusi ini dapat berpotensi sebagai rumah permanen setelah beberapa waktu ditinggali, walaupun tanpa menggunakan alat-alat canggih untuk membangunnya. Ini telah menjadi tujuan kami untuk mengembangkan proyek tersebut sebagai solusi hunian yang lebih permanen," ujarnya.

Namun, dia menambahkan, bukan hanya bagi pengungsi dari berbagai bencana, namun juga sebagai solusi bagi rumah dengan harga tejangkau di mana pun. Rumah ini dapat meningkatkan kualitas hidup, kualitas lingkungan, masyarakat, dan bahkan mampu menginspirasi diplomasi di antara beberapa kultur di seluruh dunia dalam skala lebih besar.

"Palet ini multifungsi, dapat didaur ulang, berkelanjutan, dan mudah perakitannya. Selain itu, secara umum, estetikanya juga memuaskan. Rumah-rumah ini dapat tersedia dengan mudah di sejumlah besar negara. Biaya pengiriman dan berat bahan baku rumah ini juga dapat diabaikan lantaran berbarengan dengan pengiriman makanan, baju, atau bantuan lainnya," katanya.

Menurut dia, struktur panel kayu yang sederhana dalam proyek ini mampu berevolusi secara alami dari perlindungan darurat menjadi rumah permanen dengan penambahan beberapa material seperti puing-puing, batu, tanah, lumpur, plester dan beton.

Nah, mungkinkah rumah-rumah semacam ini dapat menjadi 'kado Natal' bagi para pengungsi dan penduduk-penduduk yang tidak memiliki rumah di Indonesia akibat bencana?

Baca juga:

Selamat Tinggal Masa-masa Indah KPR Syariah....


09.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Pohon Mewah, Ada Kulkas sampai Bak Mandi Air Panas!

Written By Unknown on Jumat, 14 Desember 2012 | 09.37

www.dailymail.co.uk

Rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

www.dailymail.co.uk

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng, seperti menghadirkan bak mandi air panas ini.

www.dailymail.co.uk

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung.

KOMPAS.com - Seorang ahli bangunan di kawasan Kent, Inggris, saat ini tengah bersiap-siap memperkenalkan rumah pohon mewah seharga kurang lebih 60,000 Euro. Maklum, rumah pohon tergolong mewah karena dilengkapi kabinet dapur, TV plasma 60 inci, bahkan bak mandi air panas.

Chris Whalley, si ahli bangunan itu, membangun "rumah persembunyian" rahasia itu di kawasan Blean, Kent, Inggris, selama lebih dari 7 bulan. Whalley mengukir "rumah pohon" tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu apung yang ia kumpulkan dari pantai tak jauh dari tempatnya membangun rumah pohon ini.

Ia memang membuat rumah pohon ini sedemikian mewah untuk ukuran yang biasa dibuat orang secara iseng-iseng. Ia dengan serius melengkapi rumah pohon untuk berlibur ini dengan saluran air dan instalasi listrik. Alhasil, memang tampak benar-benar lengkap serta nyaman seperti di hotel bintang lima bergaya dekorasi rustik.

Mengelilingi seisi rumah pohon ini terasa memberikan nuansa harmoni alam dengan setting rumah yang benar-benar alami. Whalley membangun konstruksi rumah pohon ini setinggi 20 kaki dari tanah.

Untuk menjalankan rencana pembangunannya, ia mulai merancang desain bangunan ini sebagai rumah pohon berteknologi tinggi pada Maret lalu. Untuk memperkecil pengeluaran, Whalley menggunakan kulit-kulit kayu dan tumpukan kayu apung yang dia kumpulkan tak jauh dari Pantai Whitstable.

Whalley dan isterinya, Michelle (48), yang dikaruniai enam anak ini, juga cukup beruntung memiliki banyak kulit kayu untuk membuat lemari, sebuah meja, dan tempat tidur di rumah pohon ini. Kemudian, Whalley mulai melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan penyamak kulit kayu, dan naik-turun pohon menggunakan tali.

Baca juga:

Wow...JK Rowling Bangun Rumah Pohon "Harry Potter"!


09.37 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger